
ada yang mengkhawatirkan hujan,
ribuan liternya menjawab tangan peluka tanah dan kehijauan
ada yang memohon hujan,
bertahan dalam kekeringan berkepanjangan, membumbungkan harapan
ada yang menyesali hujan,
menanam benih kecewa, disangkanya menghalangi rencana
ada yang berdiri di bawah hujan, merebahkan air mata,
menitipkan rasa pada yang tak pernah datang,
melepaskan luka, hujan menghapusnya
ada yang berhenti berlari dari lingkaran pertanyaan,
hujan tak memberi jawaban, meredakan lelah ketidakberujungan
ada yang merintih dalam hujan, menyenandungkan elegi tak bercipta,
menantikan nafas dari kematian sebuah hati
ada yang bertanya-tanya dalam hujan,
kapankah sandiwara dunia akan akhirnya ?
ia mengkhayalkan peri hujan,
berjatuhan butiran yang membungkus cahaya dari dua sudut mata
ia mengumpulkan hujan,
mencawankan jutaan tetesnya, mengulurkan kekuatan
ia meraih sebuah tangan, menggandengnya erat,
berpayung di bawah ketenangan
ia melepas syal dari lehernya,
mengalungkan kehangatan pada seorang tua di sebelahnya
ia merangkai kesetiaan, mengartikan kehilangan
hujan, mengalbumkan kenangan, mengantarkan kepergian
ia bangkit dari hujan,
berjalan menerobosnya, menyelipkan senyuman, kesadaran..
kesabarannya tak sepanjang ingatan
ia meredupkan cahaya, hujan membacakan dongeng pengantar tidur, menyelimutinya dengan mimpi
menutup sebuah cerita, jiwanya terbang menjelajahi semesta kedamaian,
cinta Tuhan lewat hujan
~”~
Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh
Bang Aswi dan Puteri Amirillis
::
gambar diambil dari [sini]
Bang Aswi dan Puteri Amirillis yang telah mengumpulkan hujan, terima kasih ^^


